ArtikelHj. Nazlah Hasni, M.Si

Hajar: Menelan Sunyi, Membesarkan Ismail dalam LDM Paling Sunyi Sepanjang Sejarah

Setiap Idul Adha, manusia berbicara tentang ketundukan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail. Namun jarang sekali kita benar-benar berhenti untuk memandang sosok perempuan yang diam-diam memikul sunyi paling panjang dalam kisah itu: Hajar.

Padahal jika direnungkan, justru di pundak perempuan inilah pondasi kepribadian Ismail dibangun.

Hajar bukan hidup di rumah yang setiap hari dipenuhi kebersamaan bersama suami. Bukan pula menjalani perpisahan sebentar lalu kembali bertemu. Yang dijalani Hajar adalah jarak yang panjang, di sebuah lembah sunyi yang bahkan belum bernama Makkah. Tidak ada manusia. Tidak ada air. Tidak ada kehidupan. Hanya hamparan sepi, panas, dan bayi kecil dalam gendongannya.

Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di lembah tandus itu, Hajar mengejar sang suami sambil bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini?”

Hajar mengulang pertanyaan itu berkali-kali. Namun Nabi Ibrahim tidak menoleh. Sampai akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.”

Seketika Hajar terpaku dan berhenti mengejar. “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” (HR. al-Bukhari)

Kalimat itu sering terdengar sederhana ketika dibaca. Padahal mungkin itulah salah satu bentuk tawakal paling besar yang pernah diucapkan seorang ibu. Namun Hajar tetaplah manusia, tetap takut, tetap bingung, tetap bisa merasa sedih dan memiliki pertanyaan-pertanyaan yang tidak terucap.

Dalam sebagian riwayat tafsir disebutkan adanya kecemburuan Sarah setelah kelahiran Ismail, menjadi salah satu penyebab kenapa Nabi Ibrahim memutuskan “meletakkan” Hajar di lembah sepi. Namun, riwayat-riwayat itu memang tidak boleh dipahami sekadar sebagai konflik rumah tangga biasa, sebab Al-Qur’an dan hadis tetap menunjukkan bahwa penempatan Hajar dan Ismail di Makkah terjadi dalam bingkai perintah Allah. Namun sebagai manusia, sangat mungkin Hajar tetap merasakan sisi pahit dari keadaan itu. Dengan kata lain, Hajar mungkin juga mengalami rasa tersisih sebagai seorang perempuan karena harus mengalah demi Sarah.

 

Barangkali siapa pun yang berada di posisi Hajar bisa saja berpikir: Aku disingkirkan, Aku dijauhkan, atau bahkan: aku tidak lagi diinginkan. Dan justru di sinilah letak kebesaran hati Hajar. Hajar tidak membiarkan kemungkinan rasa pahit itu berubah menjadi racun dalam pengasuhan. Hajar tidak membesarkan Ismail sebagai anak yang merasa dibuang. Hajar tidak memenuhi hati anaknya dengan prasangka tentang ayahnya. Hajar tidak menjadikan jarak sebagai alasan untuk menanamkan kemarahan.

Padahal sangat mudah bagi seorang ibu yang lelah dan terluka untuk berkata: Ayahmu meninggalkan kita, atau: kita hidup sendiri karena ayahmu pergi. Namun Hajar tidak melakukan itu. Hajar memilih menelan sunyinya sendiri.

Dan mungkin di situlah letak kekuatan terbesar seorang ibu: ketika ia mampu menghentikan luka pada dirinya sendiri, lalu tidak mewariskannya kepada anaknya.

Banyak orang mengira anak hanya tumbuh dari makanan dan pendidikan. Padahal anak juga tumbuh dari narasi yang terus ia dengar di rumah. Anak belajar mengenal ayahnya pertama kali melalui cara ibunya berbicara tentang ayahnya. Jika seorang ibu terus menanamkan kepahitan, anak bisa tumbuh dengan kemarahan yang bahkan tidak ia pahami asalnya. Namun jika seorang ibu menjaga hati anaknya tetap bersih, anak tetap dapat mencintai sosok ayahnya meski jarak memisahkan mereka. Dan itulah yang dilakukan Hajar, yang kelak menghasilkan buah luar biasa.

Disebut buahnya luar biasa, karena tidak ada riwayat yang menggambarkan Ismail tumbuh sebagai anak yang kehilangan ayah secara batin. Tidak ada satu pun cerita yang mengambarkan Ismail menjadi anak yang fatherless. Padahal Nabi Ibrahim tidak selalu hadir membersamai masa kecil Ismail. Hajar berhasil menjaga sosok ayah tetap hidup di dalam hati anaknya.

Tahun-tahun berlalu. Ismail tumbuh besar di bawah pengasuhan ibunya. Lalu datang ujian yang mungkin paling berat bagi seorang ibu. Suatu hari Nabi Ibrahim datang membawa mimpi dari Allah: bahwa harus menyembelih Ismail.

Al-Qur’an mencatat percakapan antara ayah dan anak itu. “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu…” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Lalu Ismail menjawab, “Wahai Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.

Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dan yang membuat kisah penyembelihan ini terasa begitu sunyi adalah: nama Hajar tidak disebut. Tidak ada riwayat sahih yang menjelaskan bagaimana perasaan Hajar saat itu. Tidak ada penjelasan apakah Hajar mengetahui mimpi tersebut sebelum Ismail pergi bersama ayahnya. Tidak ada narasi tentang tangisan seorang ibu. Namun justru diamnya riwayat itu

 

terasa sangat kuat. Karena kita tahu: anak yang mampu menjawab setenang itu tidak dibentuk dalam sehari.

Kalimat: “Wahai Ayahku…” terasa sangat dalam. Sebab Ismail tidak berkata dengan kemarahan. Tidak berkata: “Mengapa ayah baru datang untuk mengambil hidupku?”

Ismail justru menjawab dengan penuh hormat, tenang, dan patuh. Dan mungkin di situlah jejak pengasuhan Hajar paling terlihat. Hajar berhasil menjaga cinta seorang anak kepada ayahnya, bahkan ketika sang ayah tidak selalu hadir secara fisik. Hajar berhasil mendidik Ismail untuk tetap menghormati ayahnya tanpa dendam, tanpa prasangka, tanpa luka yang diwariskan. Padahal Hajar sendiri menjalani hidup yang sangat berat.

 

Waktu berjalan. Lembah tandus itu perlahan hidup. Lalu datang hari ketika Nabi Ibrahim dan Ismail meninggikan dasar-dasar Baitullah. “Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah: 127)

 

Sekali lagi, nama Hajar tidak disebut. Namun sulit membayangkan Ka’bah berdiri tanpa jejak seorang ibu bernama Hajar. Karena sebelum ada bangunan suci itu, ada seorang perempuan yang lebih dulu bertahan hidup di lembahnya. Sebelum manusia datang berhaji, ada seorang ibu yang lebih dulu berlari di antara Shafa dan Marwah demi anaknya. Sebelum Makkah menjadi pusat peradaban tauhid, ada perempuan yang pernah sendirian di sana. Dan mungkin         memang   begitulah             cara              Allah   memuliakan                      seorang         ibu: namanya tidak selalu berada di depan, tetapi seluruh peradaban berdiri di atas pengorbanannya.

Kemudian Ismail tumbuh dewasa dan menikah. Suatu hari Nabi Ibrahim datang mengunjungi rumah Ismail. Namun Ismail sedang tidak berada di rumah. Nabi Ibrahim hanya bertemu istrinya. Perempuan itu mengeluhkan kehidupan mereka. Mengeluhkan kesempitan hidup. Mengeluhkan keadaan rumah tangganya.

Maka sebelum pergi, Nabi Ibrahim berpesan: “Sampaikan kepada suamimu agar ia mengganti ambang pintunya.” Ketika Ismail pulang, Ismail memahami maksud ayahnya: ceraikan istrimu. Dan Ismail melakukannya.

Yang terasa menyayat dari kisah ini adalah: Hajar tidak ada di sana. Banyak ulama memahami bahwa saat itu Hajar kemungkinan telah wafat. Artinya, perempuan yang dulu membesarkan Ismail sendirian itu tidak lagi menyaksikan anaknya membangun rumah tangga dan menjadi lelaki dewasa.

Namun bukankah itu sering terjadi dalam kehidupan para ibu?

Mereka menghabiskan hidup membangun fondasi anak-anaknya. Tetapi ketika anak itu berdiri tegak, nama mereka perlahan menghilang dari panggung. Dan mungkin justru di situlah letak kebesaran Hajar.

 

Hajar tidak banyak tercatat. Tidak hadir di banyak dialog besar sejarah. Tidak selalu disebut dalam peristiwa-peristiwa penting. Namun jejaknya ada di mana-mana. Ada di hati Ismail yang lembut kepada ayahnya. Ada di anak yang tumbuh tanpa mewarisi kepahitan ibunya. Ada di Zamzam yang terus mengalir. Ada di Ka’bah yang berdiri hingga hari ini. Ada di langkah sa’i jutaan manusia sepanjang zaman.

Hajar mengajarkan satu hal yang sangat besar: bahwa seorang ibu mungkin tidak selalu mampu memilih takdir hidupnya, tetapi ia selalu bisa memilih apakah luka itu akan diwariskan kepada anaknya atau berhenti pada dirinya sendiri. Hajar ditakdirkan menjalani Long Distance Marriage (LDM) paling sunyi dalam sejarah, tapi memilih menghentikan luka itu pada dirinya sendiri.

Malang, 10 Dzulhijjah 1447 H/27 Mei 2026

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button